Hari ini : Jumat, 16 2026

NEWS

Menyatu dengan Deburan Ombak Pancer Door, Festival Film Horor 2026 Resmi Dibuka Lewat Prosesi Sakral dan Tema 'Indigo'

PACITAN – Semilir angin laut dan deburan ombak Pantai Pancer Door menjadi saksi dimulainya perhelatan Festival Film Horor (FFH) 2026, Rabu (14/10) sore. Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, festival ini mengusung tema reflektif: “Indigo: Melihat yang Tak Terlihat, Membaca yang Tak Terlupakan, Membangun yang Akan Datang.”

Perhelatan tahun ini turut mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh dari Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya. Dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf) menjadi momentum strategis dalam memposisikan FFH 2026 bukan sekadar ajang apresiasi sinema, melainkan sarana inkubasi dan akselerasi potensi ekonomi kreatif daerah. Melalui sinergi ini, FFH didorong menjadi wadah pengembangan talenta perfilman lokal, pemantik ekosistem industri kreatif pesisir, serta sarana promosi film tourism yang mampu mengangkat kekayaan budaya dan pariwisata Pacitan ke level nasional.

Pembukaan FFH II dihadiri oleh ratusan peserta terdiri dari komunitas sineas muda, jajaran instansi pemerintah daerah, pelajar, hingga masyarakat umum dibuka secara simbolis melalui prosesi penyalaan lampion oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, tokoh perfilman nasional sekaligus Festival Board Garin Nugroho, dan Festival Director Idham Nugrahadi.

Perpaduan seni tradisi dan atmosfer sinema horor kental terasa sejak awal acara. Penonton disuguhkan alunan musik syahdu dari Keroncong Sinoman, disusul penampilan sakral Tari Umbul Dongo dari Sanggar Tari Pradnya. Tarian yang bermakna melangitkan doa keselamatan ini memukau hadirin ketika para penari mengantarkan trofi festival secara simbolis ke atas panggung.

Sineas senior sekaligus perwakilan Festival Board, Garin Nugroho, mengapresiasi keberanian dan konsistensi festival ini. Menurutnya, tajuk "Indigo" bukan sekadar membicarakan hal mistis atau menakutkan, melainkan membuka ruang estetika, sejarah, dan imajinasi kreatif yang mendalam.

"Tema Indigo sangat tepat karena memiliki keterkaitan erat dengan spektrum warna, sejarah panjang manusia seperti legenda purba di Song Terus serta cara pandang masyarakat Pacitan. Tema ini tidak hanya mewakili unsur supranatural, tetapi membuka ruang eksplorasi artistik dan kreativitas sinematik," ungkap Garin Nugroho dalam sambutannya.

Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, yang juga bertindak selaku Festival Board FFH 2026, menyambut hangat para pegiat film dan undangan. Ia mengenang bagaimana Pantai Pancer Door memiliki kisah dan memori masa kecil tersendiri, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung industri kreatif.

"Pemerintah daerah mengapresiasi kerja keras rekan-rekan panitia Ruang Film Pacitan dan arahan para mentor. Kami berharap Festival Film Horor ini dapat terus dievaluasi dan berkembang menjadi wadah utama bagi lahirnya sineas-sineas berbakat, sekaligus memperkuat Pacitan sebagai destinasi wisata dan ekosistem perfilman yang berdaya saing," tutur Indrata Nur Bayuaji sebelum membuka acara secara resmi.

Sementara itu, dalam sesi The Master Minds bertajuk "Cucu Mbah Sayem", Festival Director Idham Nugrahadi menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang berkolaborasi dan memohon ruang untuk terus bertumbuh demi memajukan sinema alternatif di Pacitan.

Acara seremoni ditutup dengan sesi foto bersama dan penayangan film lokal “Pesarean” karya Ruang Film Pacitan yang menjadi bagian dari Festival Film Horor 2026. Penayangan ini langsung menyedot antusiasme penonton pesisir hingga acara rampung pada petang hari dengan tertib.

Sepanjang penyelenggaraannya ke depan, Festival Film Horor 2026 menghadirkan beragam karya dari sineas independen dan komunitas film pelajar di Jawa Timur dan sekitarnya, menempatkan Pacitan di peta eksplorasi sinema horor berakar kearifan lokal.

Tentang Festival Film Horor (FFH) 2026:

Festival Film Horor Pacitan merupakan wadah apresiasi, kompetisi, dan edukasi bagi pembuat film independen dan generasi muda dalam mengeksplorasi genre horor berbasis narasi budaya, sejarah, dan mitologi lokal nusantara.

OHTER POST