Hari ini : Selasa, 20 2026

NEWS

Puncak Eksplorasi Sinema Horor, Ratusan Penonton Padati Pemutaran Film Hari Kedua FFH 2026 Pacitan

Pacitan – Memasuki hari kedua program penayangan (screening), atmosfer perfilman di Kabupaten Pacitan semakin hidup. Komunitas Ruang Film Pacitan sukses menyelenggarakan maraton pemutaran film sepanjang hari pada Jumat, 16 Oktober 2026, yang dipusatkan di kawasan Alun-Alun Pacitan hingga Pasar Sawo.

Program penayangan film ini diselenggarakan bukan sekadar menyajikan tontonan menegangkan, melainkan sebagai wadah edukasi sosial, ruang apresiasi sineas muda independen, serta sarana penguatan ekosistem perfilman dan ekonomi kreatif daerah. Mengusung tema besar "Indigo: Melihat yang Tak Terlihat, Membaca yang Tak Terlupakan, Membangun yang Akan Datang", FFH 2026 membuktikan bahwa sinema horor mampu menjadi media reflektif untuk memotret mitologi lokal, isu sosial, dinamika kesehatan mental, hingga pelestarian tradisi ke ruang publik.

Antusiasme Membeludak di Lima Bioskop Rakyat Tematik

Program pemutaran film pada hari kedua kembali dihadirkan serentak di lima ruang pemutaran bertajuk "5 Layar Jejak Mbah Sayem". Pada kelima bioskop rakyat ini, antusiasme masyarakat Pacitan sangatlah tinggi.

Pada Bioskop Rakyat Mbah Sayem (Gedung Karya Dharma), Memutar Kategori Film Umum Nasional dalam tiga sesi maraton. Sesi 1 siang dihadiri 38 penonton (Kholik, H untuk Hantu, Junio’s First Kiss), Sesi 2 sore dihadiri 80 penonton (Tether, Bisikan, Muliha, Gamang), dan Sesi 3 malam memikat 146 penonton (Lidah Api, Hantu Banyu, Review Klinik Baru feat. Sissy, Tear It Out, hingga Hapus).

 

Sementara Bioskop Rakyat Laut Selatan (Gedung Gasibu Swadaya), yang mengakomodasi Kategori Pelajar Regional SMA/SMK se-Jawa Timur, juga banjir pengunjung. Setelah Sesi 1 menghimpun 100 penonton (Deadline, Pulang, Surup, Smriti), antusiasme melonjak pada Sesi 3 malam hari dengan kehadiran 240 penonton dari kalangan pelajar SMKN 2 Pacitan dan masyarakat umum yang larut dalam ketegangan film Mbarep, Kesurupan, Menuju TKA, Tilem, hingga Silentium.

Kemudian Bioskop Rakyat Gunung Karst (Tobong/Lapangan Basket Alun-Alun) menampilkan Kategori Ekshibisi komunitas lokal dan pelajar. Tercatat sebanyak 61 penonton di Sesi 1 (Seramnya Judi Online, Belik Bolak Balik), 125 penonton di Sesi 2 (Kelas Kosong, Ghendhis, Ajal Diantara Akad), dan membeludak hingga 293 penonton di Sesi 3 malam hari saat pemutaran karya Shadow, AIB, Bangku Kosong Terakhir, hingga Atma Benjana.

Bioskop Rakyat Goa Karst (Halaman Pasar Sawo) menyuguhkan Kategori Video Bercerita tingkat PAUD hingga sekolah dasar. Sebanyak 123 penonton memadati area pasar rakyat hingga panitia membentangkan tikar tambahan di lorong gedung untuk menyaksikan sembilan film, termasuk pemutaran ulang film Penjara Layar Sentuh dan Babad Kledung, disusul karya Hafalan, Tangis di Sepedahku, Srenggala, hingga Misteri Dibalik Monumen Teken Berseri.

Layar Kembali Ditancap (Lapangan Voli Alun-Alun), menyajikan pemutaran ruang terbuka Kategori Unofficial Film Lokal Pacitan seperti The Last Camp, Ndawung Hening Tak Berujung, Sanepan, dan Trauma Surup di hadapan ratusan warga yang berkumpul santai.

Secara akumulatif, lebih dari 1.000 penonton memadati sesi-sesi pemutaran film sepanjang Jumat kemarin. Reaksi penonton pun sangat hidup, mulai dari histeria ketakutan, decak kagum, gelak tawa pada komedi satir, hingga air mata haru pada narasi keluarga dan perpisahan. Keterlibatan aktif penonton juga tercermin dalam sesi diskusi interaktif di akhir penayangan. Salah seorang penonton asal Sidoarjo, Rivan, secara terbuka memuji kualitas karya yang disuguhkan di Gedung Gasibu Swadaya.

"Keren dan luar biasa. Penataan teknis dan alur ceritanya sangat dinikmati penonton," tutur Rivan saat menyampaikan kesannya kepada pembuat film dan kurator yang hadir.

Rangkaian Acara Menarik yang Perlu Dinantikan

Kemeriahan festival semakin lengkap dengan daya tarik wisata dan kegiatan komunitas (Non-Screening Program). Pengunjung masih dapat menikmati sensasi berbelanja kuliner dan kriya lokal di Pasar Hantu yang berkolaborasi dengan PLUT KUMKM Pacitan, serta mendalami riset prasejarah di Galeri Jejak Mbah Sayem bersama Museum Song Terus. Suasana malam sebelumnya juga telah diramaikan oleh lari santai tematik Malam PenyamarRun 5K, gowes malam The ConjuRide, dan pertunjukan musik di Underworld Groove Market.

Seluruh rangkaian FFH 2026 akan ditutup pada malam puncak, Sabtu, 17 Oktober 2026 di Alun-Alun Pacitan. Agenda penutupan ini menjadi momen yang paling dinantikan publik, menghadirkan ritual budaya agraris Thethek Melek Song Meri, pertunjukan teatrikal Cultural Performance, pengumuman pemenang karya terbaik di Malam Penganugerahan (Awarding Night), serta konser penutup dari guest star Band Overnight yang terbuka gratis untuk seluruh masyarakat.

Tentang Festival Film Horor (FFH) 2026:

Diinisiasi oleh Ruang Film Pacitan pada 14–17 Oktober 2026, FFH 2026 merupakan wadah apresiasi sinema, pengembangan bakat muda, dan kolaborasi ekonomi kreatif lintas subsektor di Jawa Timur. Terselenggara dengan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf) RI, Kementerian Kebudayaan RI, Community Forum JAFF, serta Pemerintah Kabupaten Pacitan.

OHTER POST